Kamis, 07 Desember 2017

Petualangan Dedy&Adnan part1

Pertama saya jelaskan tentang alasan saya membuat artikel ini adalah untuk mengenang dan sekedar menceritakan sedikit pengalaman pribadi saya.
Crita ini adalah nyata dari pengalaman saya, bukan copas dari artikel lain dan juga saya tidak menyontek dari kisah orang lain.

Mohon maaf jika nanti ada kata yang sulit untuk dicerna karna saya asli orang solo jadi sedikit agak kagok dengan bahasa indonesia.
"Bahasa indonesia saya sangatlah payah(medok)" :D

Kenapa saya membuat artikel dengan judul "Petualangan Dedy&Adnan"? Karna dalam crita ini pemainnya tidak lain tidak bukan adalah saya sendiri dan teman saya yang bernama Adnan.
Langsung saja saya akan menceritakannya...

" Saya adalah orang yang kadang malas kadang semangat, pengen taunya besar, susah menabung, lumayan pinter, kalau sekolah hobbinya tidur dikelas"wkwk", saya dulu sekitar tahun 2013 saya yang duduk dibangku smp kelas 7 SMPN GROGOL 02 memutuskan untuk keluar sekolah karna saya tau kalau saya lanjut sekolah orangtua saya pastinya akan montang-manting mencari uang untuk membiayai sekolah saya, karna saya dari kecil hidup dengan ibu saya jadi saya tau jika saya akan menambah beban orangtua jika saya melanjutkan sekolah. Sudah keluar saya bekerja di sebuah proyek di PT.SBMA, saya sendiri saat itu masih belum tau apa-apa tentang pekerjaan karna saya mulai bekerja diproyek saat itu saya umur 13-14, tentunya masih kecil dan tidak sepatutnya diumur segitu saya sudah mencari uang dengan bekerja, beradu dengan terik matahari. Lama-lama seiring berjalannya waktu saya mulai menguasai semua pekerjaan diproyek tersebut, selesai membangun satu rumah, lanjut membangun rumah satunya lagi dan seterusnya sampai 2015 awal, teman kerja saya yang bernawa MasDidik merequid "ceilah merequid kayak tentara saja wkwk",  merequid keponakannya untuk masuk kerja bersama kami, dia bernama AdnanHanafi.
Adnan saat masuk kerja pertama diproyek kami dia orangnya pendiam, tidak banyak bicara kalau tidak diajak ngobrol, dan gak berbeda dengan teman2 lainnya. Dari situ saya merasa dia ada persamaan sifat dengan saya"mungkin itu yg menyebabkan kami berdua menjadi sahabat".  Awalnya hanya sekedar kenal biasa seperti awamnya pertemanan, lama-lama kita maen bareng, nongkrong bareng, ketemu sama cewek bareng, maen sama pacar bareng, ngajak kenalan cewek bareng, nonton konser berantem bareng, pokoknya susah seneng, semuanya bareng "hehe",
Tibalah pada malam harinya ntah saat itu ada setan lewat atau gimana, padahal kita juga sama-sama lagi sadar "bukan lagi menegak miras", mungkin saat itu sekitaran pukul 7 malam Adnan bercerita tentang dia pengen ke Jakarta dan saat itu si Adnan ngajakin saya. "Ayo ded grenjeng ning jakarta?" saya pun menjawan "ngopo nan ning kono adohmen tekan jakarta?" | "Rapopo nggolek kerjo ning kono, ning kene tak pikir-pikir ora maju2 og ded, piye gelem ra?". Saya terdiam dan berpikir "Ho'o ya ning kini uripku monoton, menowo dengan ning jakarta aku isoh sukses", selesai saya berpikir kemudian saja menjawab ajakan si Adnan, "Yoo yoh tak siap-siap sek pamit", kami pun mempersiapkan 1 tas yang berisi pakaian 2 setel, handphone, charger, fc kk untuk identitas, dengan membawa uang kurang lebih tidak sampai 20ribu, sudah pamit dengan orangtua masih-masing, dan keluarga, tentunya kami juga tidak lupa berdoa apa aja sebisa mungkin untuk keselamatan dijalan, soalnya saya dan Adnan berpikir kali ini kita bakalan berpetualang diJakarta bukan diJogja ataupun Klaten yang sering kita petualangin.
Selesai berpamitan kita mulai untuk meyakinkan diri dan sekali lagi menguatkan mental, fisik, dan pemikiran. Sudah matang, perjalanan dimulai dari Sangkrah rumah Adnan, berlanjut dibangjo LuwesLojiwetan dengan harapan malam itu menunggu truck atau sebuah pick up untuk menuju searah ke Jakarta, saat itu mungkin pukul 9 malam. Setelah cukup lama menunggu akhirnya kami dapat tumpanhan truck yang menuju arah Purwosari. Dan dari bangjo ke bangjo kami berjalan, menunggu untuk mendapatkan tumpangan truck atau pick up. Terkadang kalau sepi tidak ada tumpangan kami jalan kaki, ada sisa uang kami belikan esteh untuk berdua, cari es yang harganya murah, dan airnya minta yang banyak, kalau nggak gitu ya es air putih, untuk rokok kami saat masih ada uang, kami membeli rokok djarum coklat, niatnya biar awet disepanjang jalan "hehe",
Berjalan tanpa henti, uang sudah habis terkadang kami nenahan lapar, kalau tidak kuat menahan lapar salah satu dari kami minta nasi dan air di sepanjang warung, begitu terus. Banyak orang disepanjang jalan yang kami temui kami mintai tumpangan, dari penjaga warung, supir truck, supir pick up, tukang parkir, polisi, anak pank bandung, mereka bertanya " Wong ngendi mas/dek/bro?", "Ameh nengdi sampeyan?", tidak sedikit juga kami menjawab "ajeng teng jakarta pak/mas/buk, ajeng pados gawean", dan juga tidak sedikit pula dari mereka semua yang mendoakan kami untuk selamat dan sukses sampai tujuan, tentunya kami juga sangat berterimakasih untuk itu,
Tidur terkadang disembarang tempat, jarang mandi, kalaupun mau mandi harus mencari pom bensin, malam dingin kedinginan, siang panas kepanasan, dijalan yang kita rasakan banyak, ada rasa takut, waswas, bahagia, capek, sayapun dan si Adnan tidak  terlalu menganggapnya serius karna kami sering berpetualang meskipun ke jakarta sangat jauh tapi setidaknya mental dan nyali kami sudah matang,
Kami terus menuju arah jakarta, ada kalanya kami tersesat dan kembali lagi ke arah yang kami tuju, dengan berkilo-kilomil, berjalan malam gelap, siap terik matahari seperti membakar kepala, haus, lapar,
Kami tidak pantang menyerah untuk itu, dan setelah beberapa jam, beberapa waktu, 3hari perjalanan kami pun sampai dijakarta dengan tumpangan truck dari bandung ke jakarta dengan nopol polisi berplat B mengarahkan kami ke jakarta timur, kami sangatlah senang begitu ampai di jakarta karna perjalanan kita tidak sia-sia, "Nan jakarta nan"|"Ho'o ded tekan jakarta". Setelah sampai dijakarta lalu kami bingung kami mau kearah mana lagi dan mau nglanjutin apa lagi? Saat itu tujuan awal kami tergoyahkan, karna kami malam itu jam 10an capek, ngantuk, belum makan, minum hanphone pun mati, terpaksa jalan kaki malam hari dikota yang sepi tanpa seorangpun, dan tanpa kendaraan yang lewat sama sekali, setelah berjalan cukup lama kami menemukan sebuah pos satpam dekat dengan jalan tol, saya sendiri tidak sadar saat itu kami tiba disebuah desa yang dekat dengan tol yang kalian kalau pernah kejakarta pasti tau kan kalau tol atau jalan layang jaraknya jauh banget dan jarang ada bangjo,
Yak kami istirahat sebentar sambil mencharger hp kami dipost satpam yg saat itu untungnya ada dua orang satpam, perbincangan terjadi diantara kami dan pak satpam, pak satpam bisa brbahasa jawa, saya kaget krna saya kira org jawa tidak bisa bahasa jawa"hehe", ntah namanya siapa yaa "karna kejadiannya sudah lama jadi saya agak lupa", ada kata-kata dari pak satpam yg membuat saya menjadi takut bahkan ragu untuk melanjutkan petualangan saya, "Koe ning kene nek randue identitas bakal dicrkel satpol pp trus diulehke omahmu dek/mas", "ning kene nek awan gaweane nggo tawuran pelajar", nahlohh~ Nyali saya tiba-tiba gugur, kami pun melanjutkan jalan malam itu grimis, kami terus berjalan, dimalam itu tiba-tiba bnyak angkot lewat yg mnwrkan tmpangan, tpi kami tidak mau krna kami tidak membawa uang, malam itu saya merasa sangat lelalah, lapar, pikiran terombang-ambing apalagi setelah mendengar semua cerita pak satpam tadi, jalan, jalan, jalan dengan tanpa alas kaki ataupun sepatu karna sepatu kami telah kami buang dijalanan dengan alasan sudah tidak layak pakai. Disebuah moment saya pun berhenti dibawah jembatan layang yang sangatlah sepi, saya berkata kepada teman saya Adnan, "Muleh yoh nan?" |"Loh, muleh ded? Awakdewe wis tekan kene lo, nek muleh mbok ket ndekigi-ndekingi"(muka kecewa Adnan)|"Lapiye nan, neng kene awakdewe randue tujuan lo, awakdewe randidit, luwe, aku wegah mati keluwen ning jakarta, koe yomestine wegah to nan?", dengan nada sedikit kecewa adnan menjawab, "Yowis yoh ded muleh yo rapopo, mbok ngertio ket ndekingi-ingi". Ada rasa lega dan sedikit tidak enak karna ajakan saya tersebut, kami kemudian pulang dengan perjalanan sama dengan kisah yang sama, kelaparan, kehausan, kepanasan, kehujanan, 3hari lebih kemudian kami sampai disolo, dan kami bekerja lagi diproyek PT.SBMA.

Perjalanan kami tidak sampai disitu saja, tapi jeda, ini saya sebut part 1, untuk part 2 mungkin akan saya tulis dihari mendatang.
Cerita diatas baru sedikit tulisan, critanya saya potong2 dan saya ambil pokoknya saja, hal yang tidak saya sebutkan diatas adalah " Selama perjalanan kami dikasih uang orang yg merasa kasihan dengan kami, kami bertanya malah dikasih uang, dimintai tlong mendorong mobil kemudian dikasih uang, dikasih uang sama petugas kereta, dengan nominal sama 20ribu, kami tidak meminta uang, kalaupun itu ada yang ngasih uang itu karna mungkin kasian bukan kami yang minta, ingin membeli rambutan dijakarta tidak jdi krna mahal kmudian kami mlah dikasih rmbutannya krna mbkin pdagannya ksian dgan kami, lewat jalan tol dengan truck terbuka sambil sembunyi-sembunyi, sempat mau ditantang orang dijalanan" dan masih banyak kisah diatas yg belum saya critakan, karna jika saya critakan mungkin akan menghabiskan waktu saya berjamjam"

2jam penulisan artikel ini.
#Pengalaman yang luar biasa takkam pernah terlupakan akhir hayat saya, dan akan saya ceritakan dikeluarga saya mendatang#
Lokasi foto : depan balai dekat pasar minggu jakarta selatan, di cerita Dedy&Adnan part2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar